Kemarahan Mulai Sayup Menggeliat, Tapi Gerakan Masih Gagap Melihat.
Mungkin itulah ironi terbesar gerakan kita: rakyat tidak kekurangan alasan untuk marah, tetapi kemarahan tidak dengan sendirinya melahirkan kekuatan yang mampu mengubah keadaan.
Temukan kabar, investigasi data, atau esai opini berdasarkan kata kunci, topik, atau nama penulis.
Mungkin itulah ironi terbesar gerakan kita: rakyat tidak kekurangan alasan untuk marah, tetapi kemarahan tidak dengan sendirinya melahirkan kekuatan yang mampu mengubah keadaan.
Sekretariat bukan sekadar tempat menumpuk proposal kegiatan dan spanduk bekas aksi. Ia menjadi tempat membaca keadaan, berdebat, menyusun sikap, lalu keluar menemui masyarakat.
Kaderisasi seharusnya menghasilkan manusia yang mampu berpikir sendiri, bukan generasi baru yang semakin mahir menghafal perintah generasi sebelumnya.
Warkop memang jadi tempat paling revolusioner hari ini. Di sana, mahasiswa dengan modal dua puluh ribuan pun bisa menjadi pemikir ulung.
Tongkrongan adalah inkubator gagasan kritis yang paling demokratis. Tidak ada hierarki di sini. Senior tidak bisa sok jagoan jika logikanya runtuh, junior berani melantang jika data yang ia bawa valid. Diskusi tentang teori negara bisa bertransisi halus ke debat kusir soal mana gorengan yang paling
Mahasiswa masih berkumpul, diskusi masih berlangsung. Tetapi sekarang semuanya lebih estetik; Meja kayu industrial, lampu remang redup, playlist jazz lo-fi diselingi lagu “buruh-tani”, dan seseorang di sudut ruangan sedang berkata:
Ada ironi yang begitu indah dan menyakitkan sekaligus saat melihat mereka. Di siang hari, mereka adalah mahasiswa yang mungkin mengantuk di kelas Statistik
Mahasiswa Teknik yang sedikit rebel dan terlalu idealis untuk ukuran orang yang masih harus mengejar deadline tugas, Anwar punya kebiasaan mempertanyakan hal-hal yang dianggap normal.
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Masalahnya mungkin bukan mahasiswa tidak punya kepedulian, melainkan kita mulai terbiasa mengukur kepedulian berdasarkan manfaat pribadi.
Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk menjelaskan kapitalisme kepada mahasiswa Indonesia hari ini adalah dengan mengajaknya nongkrong di kedai kopi.
Diskusi belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.
Ada satu jenis manusia yang paling mudah ditemukan di kota, tetapi paling jarang dianggap sebagai bagian dari wajah kota itu sendiri: pedagang kaki lima.
Kamar kos adalah negara kecil dengan wilayah yang terbatas. Kamar adalah ibu kota, kasur menjadi pusat pemerintahan, meja belajar kadang berfungsi sebagai kementerian pendidikan, dan kulkas kecil menjadi bank sentral yang sering kali cadangannya kosong.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan mengapa mahasiswa masih minum kopi ketika UKT naik. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kita merasa kehidupan harus selalu terlihat baik meskipun keadaan sebenarnya sedang tidak baik.
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah aksi mahasiswa hari ini: kadang posternya sudah selesai jauh sebelum tuntutannya benar-benar dipahami.