BerandaARSIP PINGGIRANKota yang Terlalu Sibuk untuk "hanya sekedar" Melihat Pedagang Kaki Lima
ARSIP PINGGIRANWaktu baca ± 3 menit

Kota yang Terlalu Sibuk untuk "hanya sekedar" Melihat Pedagang Kaki Lima

Ada satu jenis manusia yang paling mudah ditemukan di kota, tetapi paling jarang dianggap sebagai bagian dari wajah kota itu sendiri: pedagang kaki lima.

Kota yang Terlalu Sibuk untuk "hanya sekedar" Melihat Pedagang Kaki Lima

Foto: https://id.pinterest.com/pin/836262224544226810/

Ada satu jenis manusia yang paling mudah ditemukan di kota, tetapi paling jarang dianggap sebagai bagian dari wajah kota itu sendiri: pedagang kaki lima. Mereka muncul ketika matahari belum selesai mengusir embun. Gerobaknya didorong melewati gang, bahu jalan, trotoar, atau sudut pasar yang entah sejak kapan sudah dianggap “liar”. Mereka menjual nasi kuning, gorengan, kopi sachet, bubur ayam, rokok ketengan, dan segala macam kebutuhan manusia yang tidak sempat masuk ke dalam mal. Kota membutuhkan mereka, tetapi kota sering kali tidak menyukai keberadaan mereka.

Inilah salah satu lelucon paling tua dalam sejarah perkotaan kita: orang miskin dibutuhkan untuk membuat kota hidup, tetapi kemiskinannya dianggap mengganggu pemandangan. Trotoar harus steril, jalan harus rapi, ruang publik harus tertib, kawasan harus “ditata”. Kalimat-kalimat semacam itu terdengar begitu indah dalam dokumen perencanaan kota. Ada revitalisasi, penataan kawasan, ketertiban umum, estetika kota, dan sederet istilah lain yang kadang membuat kita lupa bahwa di baliknya ada manusia yang sedang menghitung apakah uang hari ini cukup untuk membeli beras.

Tentu saja kota membutuhkan aturan. Pedagang tidak bisa begitu saja menggunakan badan jalan, kebersihan harus dijaga, keselamatan pengguna jalan perlu diperhatikan, dan pejalan kaki memiliki hak atas trotoar. Persoalannya muncul ketika penertiban berhenti menjadi cara mengatur ruang dan berubah menjadi cara menghilangkan orang-orang yang dianggap tidak sedap dipandang. Lapaknya dibongkar, gerobaknya diangkut, kemudian pemerintah menggelar konferensi pers tentang keberhasilan penataan kawasan. Foto-fotonya bagus. Jalannya terlihat lapang. Trotoarnya terlihat bersih. Hanya satu yang kadang tidak masuk foto: ke mana pedagang itu pergi?

Sebab penggusuran tidak pernah benar-benar menghapus kebutuhan manusia untuk makan. Orang yang kemarin menjual kopi di trotoar tetap harus membayar kontrakan malam ini. Orang yang gerobaknya dibawa petugas tetap harus membeli susu anaknya. Orang yang lapaknya dibongkar tetap harus membayar uang sekolah. Pemerintah mungkin berhasil menghilangkan lapak dari satu ruas jalan, tetapi tidak otomatis berhasil menghilangkan persoalan ekonomi yang membuat seseorang memilih berdagang di sana. Kemiskinan tidak lenyap karena dipindahkan beberapa kilometer. Ia hanya berganti alamat.

Ada kesalahan cara pandang yang cukup lama bertahan: menganggap sektor informal sebagai gangguan terhadap pembangunan. Padahal sektor informal justru tumbuh dari celah yang ditinggalkan sistem formal. Ketika pekerjaan formal tidak cukup menampung tenaga kerja, orang menciptakan pekerjaannya sendiri. Ketika harga sewa toko terlalu mahal, orang menggunakan gerobak. Ketika modal hanya beberapa juta—atau bahkan beberapa ratus ribu—orang tidak mendirikan perusahaan. Ia membeli kompor, wajan, minyak goreng, lalu mulai berjualan. Tidak ada rapat komisaris, tidak ada gedung kaca, tidak ada business plan. Hanya ada satu kalkulator sederhana di kepala: modal sekian, dagangan sekian, kalau laku makan, kalau tidak laku besok coba lagi.

Karena itu, persoalan pedagang kaki lima seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana membuat mereka tertib. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana membuat mereka tetap bisa hidup. Kota bisa ditata tanpa harus menganggap rakyat kecil sebagai noda yang perlu disapu. Trotoar bisa diperbaiki, jalan bisa ditertibkan, tetapi pemerintah juga bisa menyediakan ruang berdagang yang layak, terjangkau, aman, dan tetap memiliki akses kepada pembeli. Sebab penataan yang membuat kota terlihat indah tetapi membuat orang kehilangan penghasilan bukanlah penyelesaian yang utuh. Ia hanya memindahkan masalah sambil mengganti namanya menjadi revitalisasi.

Pada akhirnya, kota bukan museum. Kota adalah rumah. Di dalamnya ada pejabat, pengusaha, buruh, mahasiswa, tukang parkir, pedagang gorengan, dan ibu-ibu yang berjualan nasi sejak subuh. Maka ukuran keberhasilan sebuah kota semestinya tidak hanya dilihat dari trotoarnya yang bersih atau gedungnya yang tinggi, tetapi juga dari apakah orang-orang kecil masih punya tempat untuk mencari makan. Sebab rumah yang baik bukan rumah yang paling mengilap ketika difoto dari luar. Rumah yang baik adalah rumah yang penghuninya tidak terus-menerus merasa harus pergi agar rumah itu terlihat indah.

Sumber & Liputan: BELOKIRI

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Bara Api
Penulis BELOKIRI

Bara Api

Semua Tulisan →

Menulis dengan kepala dingin dan nada yang kadang panas. Tertarik pada isu kekuasaan, kebijakan publik, gerakan mahasiswa, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang sering dibungkus bahasa resmi. Percaya bahwa kritik tidak harus berisik untuk bisa mengganggu.

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik ARSIP PINGGIRAN

Ketika Kritik Harus Menunggu Algoritma

Algoritma tentu bukan manusia yang duduk di belakang meja sambil memilih siapa yang boleh bicara. Ia bekerja melalui pola, data, interaksi, dan berbagai mekanisme yang dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di dalam platform.

Bara Api
24 September 2026

UKT Naik, Kopi Tetap Harus Estetik

Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan mengapa mahasiswa masih minum kopi ketika UKT naik. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kita merasa kehidupan harus selalu terlihat baik meskipun keadaan sebenarnya sedang tidak baik.

Agen Belokan
24 September 2026