UKT Naik, Kopi Tetap Harus Estetik
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan mengapa mahasiswa masih minum kopi ketika UKT naik. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kita merasa kehidupan harus selalu terlihat baik meskipun keadaan sebenarnya sedang tidak baik.

UKT naik. Harga kos naik. Harga makanan naik. Ongkos ke kampus naik. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak boleh ikut turun: standar estetika kehidupan mahasiswa. Kopi tetap harus difoto. Nongkrong tetap harus terlihat produktif. Makanan tetap harus punya sudut pengambilan gambar yang bagus. Di tengah rekening yang mulai tipis, kehidupan digital menuntut kita tetap terlihat baik-baik saja.
Tentu saja minum kopi bukan kejahatan. Nongkrong juga bukan tanda seseorang tidak memahami kesulitan ekonomi. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk beristirahat, bertemu teman, berdiskusi, bahkan sekadar menghindari kamar kos yang terlalu sempit. Masalahnya menjadi menarik ketika konsumsi tidak lagi hanya soal kebutuhan, tetapi juga soal bagaimana kehidupan kita terlihat di mata orang lain.
Media sosial membuat kehidupan sehari-hari berubah menjadi semacam etalase. Kita tidak hanya menjalani sesuatu, tetapi juga mempertimbangkan apakah sesuatu itu layak ditampilkan. Kopi bukan cuma minuman; ia bisa menjadi suasana. Kafe bukan hanya tempat duduk; ia bisa menjadi identitas. Buku bukan hanya sesuatu untuk dibaca; sampulnya juga bisa menjadi bagian dari citra intelektual. Bahkan kesibukan pun sekarang punya estetika sendiri.
Di sisi lain, realitas ekonomi tidak ikut bermain dalam estetika. Tagihan tetap datang. Uang kiriman tetap terbatas. UKT tidak menjadi lebih murah hanya karena foto makan siang kita terlihat mahal. Ada mahasiswa yang setiap akhir bulan mulai menghitung ulang pengeluaran, tetapi pada saat yang sama merasa perlu menjaga penampilan agar tidak terlihat tertinggal dari teman-temannya. Tekanan ekonomi bertemu dengan tekanan sosial, dan keduanya sama-sama melelahkan.
Karena itu, persoalannya bukan mahasiswa boros atau tidak. Ada sesuatu yang lebih dalam: kebutuhan untuk terlihat mampu di tengah kondisi yang mungkin sebenarnya tidak terlalu mampu. Kita hidup dalam kebudayaan yang membuat kesulitan ekonomi terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan. Orang boleh sedang kesulitan membayar kos, tetapi tetap merasa harus mengunggah foto bahwa hidupnya baik-baik saja.
Di sinilah kelas sosial bekerja dengan cara yang lebih halus. Ia tidak selalu hadir sebagai rumah besar atau mobil mewah. Kadang ia hadir sebagai kemampuan untuk ikut nongkrong tanpa perlu menghitung uang di akhir minggu. Ia hadir sebagai kebebasan membeli sesuatu tanpa memikirkan apakah uang itu seharusnya dipakai untuk kebutuhan lain. Dan bagi mereka yang tidak memiliki kebebasan itu, media sosial bisa membuat jaraknya terasa semakin dekat sekaligus semakin menyakitkan.
Lucunya, kita kemudian mengkritik kapitalisme sambil membicarakannya di kedai kopi. Kita mengeluhkan budaya konsumtif sambil mencari tempat nongkrong yang paling cocok untuk difoto. Tetapi mungkin kontradiksi ini bukan alasan untuk menertawakan mahasiswa. Kita semua hidup di dalam sistem yang sama. Tidak mudah keluar dari budaya konsumsi ketika hampir seluruh kehidupan sosial kita sudah dibangun melalui barang, tempat, merek, dan tampilan.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan mengapa mahasiswa masih minum kopi ketika UKT naik. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kita merasa kehidupan harus selalu terlihat baik meskipun keadaan sebenarnya sedang tidak baik. Mengapa kesulitan harus disembunyikan? Mengapa menjadi sederhana kadang terasa seperti kegagalan? Dan mengapa sebuah foto bisa membuat seseorang merasa tertinggal dari kehidupan orang lain yang bahkan tidak benar-benar ia kenal?
Barangkali yang paling mahal dari kehidupan mahasiswa hari ini bukan kopinya. Yang paling mahal adalah keharusan untuk terlihat baik-baik saja. Kopi bisa habis dalam beberapa teguk. Tetapi tekanan untuk terus terlihat mampu bisa dibawa pulang sampai ke kamar kos.
Reaksi Warga Pembaca
Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:
Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?
Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.
Agen Belokan
Agen Belokan Belokiri. Memegang kendali penuh atas manajemen konten, kurasi naskah, dan tata kelola platform.
Menyukai Tulisan Ini? Dukung BELOKIRI Tetap Mengudara
Ruang bicara independen butuh amunisi agar tetap bebas dari sensor kekuasaan dan iklan clickbait. Sisihkan sedikit apresiasi untuk dapur redaksi.
Tulisan Terkait & Terkini
Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.
Negeri Fiksi, Ijazah Gaib, dan Sulap Mahkamah Kekeluargaan
Belum juga reda bau amis doksli (baca: dokumen asli) Ijazah Bapaknya, kita sekarang disuguhi sirkus jilid berikutnya. Kali ini selembar kertas sakti milik sang anak.
Obrolan Meja Warkop dan Revolusi yang Tak Kunjung Selesai
Warkop memang jadi tempat paling revolusioner hari ini. Di sana, mahasiswa dengan modal dua puluh ribuan pun bisa menjadi pemikir ulung.
Tongkrongan adalah Basis Massa Terakhir
Tongkrongan adalah inkubator gagasan kritis yang paling demokratis. Tidak ada hierarki di sini. Senior tidak bisa sok jagoan jika logikanya runtuh, junior berani melantang jika data yang ia bawa valid. Diskusi tentang teori negara bisa bertransisi halus ke debat kusir soal mana gorengan yang paling


