Serial Anabel: Memahami Marx dari Meja Warkop
Mahasiswa Teknik yang sedikit rebel dan terlalu idealis untuk ukuran orang yang masih harus mengejar deadline tugas, Anwar punya kebiasaan mempertanyakan hal-hal yang dianggap normal.

Ada banyak tempat untuk memahami Karl Marx: perpustakaan, ruang kelas, forum diskusi, seminar yang kursinya disusun melingkar agar terlihat demokratis, atau grup WhatsApp organisasi mahasiswa yang biasanya lebih cepat panas daripada kompor warkop. Tapi Anwar memilih tempat yang lebih sederhana: meja warkop.
Mahasiswa Teknik yang sedikit rebel dan terlalu idealis untuk ukuran orang yang masih harus mengejar deadline tugas, Anwar punya kebiasaan mempertanyakan hal-hal yang dianggap normal. Bella, kekasihnya, mahasiswa semester tiga yang belakangan lebih sering tinggal di sekretariat daripada di kos, duduk di depannya sambil mengaduk kopi. Sekretariat sudah seperti rumah kedua bagi Bella: tempat rapat, mengerjakan tugas, makan, tidur, bahkan menyaksikan manusia-manusia yang katanya ingin mengubah dunia berdebat satu jam hanya untuk menentukan desain poster.
“Marx sebenarnya ngomong apa, War?” tanya Bella. Anwar menutup bukunya. “Tentang banyak hal. Tapi salah satunya tentang bagaimana kita hidup dan bekerja.” Bella menunjuk kopinya. “Termasuk kopi?” Anwar mengangguk. “Termasuk kopi.” Ia kemudian menjelaskan bahwa di balik secangkir kopi ada petani, buruh, pengangkut, pedagang, pekerja kedai, pemilik modal, dan konsumen. Kita melihat kopi sebagai kopi, sementara Marx mengajak melihat hubungan sosial di belakangnya. “Jadi aku minum kopi sambil menikmati hasil kerja banyak orang?” tanya Bella. “Kurang lebih.” Bella berpikir sebentar. “Berarti aku harus merasa bersalah?” Anwar tertawa. “Tidak. Kalau begitu, orang miskin tidak boleh minum kopi dan orang kaya boleh minum tiga gelas.”
Mungkin di situlah Marx menjadi menarik. Ia punya kebiasaan buruk mempertanyakan sesuatu yang sudah terlalu lama dianggap biasa. Gaji kecil dianggap wajar karena masih pemula, lembur disebut loyalitas, harga naik disebut inflasi, dan orang kaya semakin kaya dianggap karena bekerja lebih keras. “Masalahnya,” kata Anwar, “kita terlalu cepat menerima keadaan hanya karena keadaan itu sudah lama terjadi.” Bella mengangguk. Ia mulai paham bahwa pertanyaan Marx bukan sekadar “siapa yang kaya dan siapa yang miskin”, tetapi siapa yang memiliki, siapa yang bekerja, siapa yang menentukan, dan siapa yang paling banyak menikmati hasilnya.
Sayangnya, kehidupan organisasi mahasiswa sering punya cara sendiri untuk membunuh teori. Marx dikutip panjang-panjang dalam diskusi, tetapi anggota baru tetap disuruh bekerja sampai tengah malam dengan alasan “demi perjuangan”. Bicara kesetaraan, tetapi senior selalu mendapat kursi terbaik. Bicara pembebasan, tetapi yang bertugas membuat kopi tetap orang yang sama. Bahkan pernah ada rapat tiga jam hanya untuk menentukan warna spanduk. “Itu kapitalisme juga?” Bella bertanya. Anwar menggeleng. “Tidak semua kekacauan adalah kapitalisme, Bel. Kadang memang organisasinya yang kacau.” Bella tertawa. Setidaknya malam itu mereka sepakat bahwa tidak semua dosa dunia bisa dibebankan kepada Marx.
Anwar sendiri tidak ingin menjadikan Marx sebagai semacam kartu anggota ideologi. Marx bukan nabi yang harus dibela setiap kali namanya disebut, apalagi wajah yang cukup dicetak di kaus agar seseorang terlihat kritis. Membaca Marx, menurut Anwar, justru berarti belajar curiga terhadap sesuatu yang dianggap terlalu normal. Ketidakadilan jarang datang dengan tulisan besar bertuliskan “INI KETIDAKADILAN”. Ia bisa datang sebagai kontrak kerja, upah kecil, target perusahaan, aturan kampus, atau kalimat sederhana: “Memang begini sistemnya.” Bella diam sebentar lalu berkata, “Berarti memahami Marx itu belajar bertanya?” Anwar mengangguk. “Iya.” Bella tersenyum. “Pantas kamu cerewet.”
Malam semakin larut. Kopi mereka hampir habis, sementara buku Marx masih terbuka di tengah meja seperti seseorang yang sengaja meninggalkan pertanyaan sebelum pulang. Bella melihat jam dan bertanya apakah besok mereka akan melanjutkan membaca. Anwar mengangguk dan bertanya, “Di perpustakaan?” Bella menggeleng. “Di sekretariat saja.” Ia tersenyum. “Aku lebih nyaman di sana.” Anwar tertawa. “Rumah kedua?” Bella mengangguk. Mereka kemudian berdiri dan meninggalkan warkop, membawa buku, tas, dan beberapa pertanyaan yang belum selesai.
Mungkin memang begitu cara paling sederhana memahami Marx. Bukan dengan menghafal kutipan agar terlihat pintar, bukan dengan menyalahkan kapitalisme setiap kali Wi-Fi kampus mati, dan bukan pula dengan menjadikan Marx sebagai hiasan di dinding sekretariat. Cukup duduk, melihat kehidupan di sekitar, lalu bertanya dengan sedikit curiga: siapa yang bekerja, siapa yang memiliki, siapa yang menentukan, dan siapa yang paling banyak menikmati hasilnya. Sebab kadang-kadang, revolusi belum perlu dimulai dengan megafon. Ia cukup dimulai dengan dua mahasiswa, secangkir kopi, dan satu pertanyaan yang membuat kita tidak nyaman.
Reaksi Warga Pembaca
Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:
Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?
Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.
Muh. Anwar Fadillah
Mahasiswa teknik yang berusaha mempropagandakan solidaritas dan anti senioritas. Tapi, di saat yang sama saya tunduk pada Bella Andriani.
Tulisan Terkait & Terkini
Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.
Republik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Mahasiswa, Negara, dan Seni Paling Mutakhir: "Tidak Peduli"
Masalahnya mungkin bukan mahasiswa tidak punya kepedulian, melainkan kita mulai terbiasa mengukur kepedulian berdasarkan manfaat pribadi.
Marx Mungkin Kesal Melihat Kita Nongkrong
Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk menjelaskan kapitalisme kepada mahasiswa Indonesia hari ini adalah dengan mengajaknya nongkrong di kedai kopi.


