BerandaMEJA WARKOPMarx Mungkin Kesal Melihat Kita Nongkrong
MEJA WARKOPWaktu baca ± 8 menit

Marx Mungkin Kesal Melihat Kita Nongkrong

Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk menjelaskan kapitalisme kepada mahasiswa Indonesia hari ini adalah dengan mengajaknya nongkrong di kedai kopi.

Marx Mungkin Kesal Melihat Kita Nongkrong

Karl Marx sedang nongkrong di warkop dengan bukunya dan segelas kopi

Foto: AI Genearetd

Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk menjelaskan kapitalisme kepada mahasiswa Indonesia hari ini adalah dengan mengajaknya nongkrong di kedai kopi. Ia tidak perlu langsung diberi Das Kapital. Cukup tunjukkan daftar harga. Dua puluh lima ribu untuk kopi susu, tiga puluh ribu untuk minuman dengan nama yang lebih panjang daripada isi gelasnya, lalu tambahan biaya layanan yang entah kenapa selalu muncul ketika kita sudah terlanjur lapar. Marx mungkin akan bertanya siapa yang menentukan harga, siapa yang membuat kopi itu, dan yang paling penting: siapa yang sebenarnya mendapat bagian paling besar dari semua uang yang kita keluarkan.

Pertanyaan itu terdengar berlebihan untuk sebuah gelas kopi. Tetapi justru di situlah cara berpikir Marx menjadi menarik. Ia terbiasa melihat sesuatu yang tampak biasa lalu bertanya apa yang tersembunyi di belakangnya. Bagi kita, kopi mungkin hanya kopi. Bagi Marx, di belakang segelas kopi ada tanah, petani, buruh, mesin, transportasi, pemilik modal, upah, pasar, dan sederet hubungan ekonomi yang membuat benda sederhana itu bisa sampai ke meja. Kita melihat hasil akhirnya, sementara proses panjang yang menghasilkan benda tersebut sering kali menghilang dari pandangan.

Kebiasaan melihat barang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri sebenarnya sudah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kita membeli sepatu tanpa memikirkan siapa yang menjahitnya. Kita menggunakan telepon tanpa memikirkan berapa banyak orang yang terlibat dalam rantai produksinya. Kita memesan makanan melalui aplikasi tanpa melihat pekerja yang mengantar dalam panas dan hujan. Barang akhirnya terlihat seperti muncul begitu saja. Seolah-olah sepatu tumbuh di pohon, makanan datang dari awan, dan paket belanjaan dikirim oleh jin yang sedang mengejar target bulanan.

Marx mengganggu kenyamanan semacam itu dengan mengajak kita melihat hubungan sosial di balik barang. Dalam pemikirannya, persoalan ekonomi bukan hanya tentang berapa harga sebuah benda, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat diorganisasikan untuk menghasilkan benda tersebut. Siapa yang memiliki alat produksi? Siapa yang bekerja? Siapa yang menentukan apa yang diproduksi? Siapa yang mendapatkan keuntungan? Dan mengapa orang yang bekerja menghasilkan sesuatu tidak selalu menjadi orang yang paling menikmati hasilnya?

Di titik ini, pembicaraan tentang Marx biasanya mulai terasa berat. Nama-nama seperti bourgeoisie, proletariat, nilai lebih, dan alienasi muncul seperti daftar materi ujian yang harus dihafalkan sebelum dosen masuk kelas. Padahal beberapa gagasan dasarnya justru dekat sekali dengan pengalaman sehari-hari. Salah satunya adalah soal tenaga kerja. Sebagian besar dari kita bekerja bukan karena dunia bertanya apa cita-cita kita, melainkan karena hidup punya tagihan.

Kita membutuhkan uang untuk makan, membayar kos, membeli pulsa, membayar kuliah, dan melakukan berbagai hal lain yang secara misterius selalu membutuhkan uang. Karena itu, kita menjual tenaga dan waktu kita kepada orang lain atau kepada sebuah perusahaan. Kita datang pada jam tertentu, mengerjakan tugas tertentu, memenuhi target tertentu, lalu menerima upah. Dalam bahasa yang sederhana, kita menukar sebagian hidup kita dengan uang.

Kalimat terakhir mungkin terdengar terlalu dramatis. Tetapi coba pikirkan lagi. Delapan jam kerja bukan hanya delapan jam di kalender. Itu adalah delapan jam dari hidup seseorang yang tidak bisa dikembalikan. Ketika seseorang mengatakan bahwa ia dibayar berdasarkan jam kerja, ada sesuatu yang cukup aneh di balik kalimat tersebut: waktu hidupnya telah menjadi sesuatu yang memiliki harga.

Masalahnya, upah yang kita terima tidak selalu sama dengan nilai ekonomi yang kita hasilkan. Seorang pekerja bisa menghasilkan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada jumlah uang yang ia terima sebagai upah. Selisih antara nilai yang dihasilkan tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja itulah yang dalam analisis Marx berkaitan dengan konsep nilai lebih. Dari sinilah ia mulai melihat bagaimana keuntungan dapat terbentuk dalam hubungan produksi kapitalis.

Tentu dunia kerja hari ini jauh lebih rumit daripada gambaran pabrik pada abad ke-19. Kita punya pekerja kantoran, programmer, desainer, pekerja lepas, pengemudi aplikasi, kreator konten, dan berbagai jenis pekerjaan yang mungkin terdengar asing bagi Marx. Tetapi perubahan bentuk pekerjaan tidak otomatis menghilangkan pertanyaan tentang kepemilikan, kontrol, upah, dan keuntungan. Pabrik mungkin berubah menjadi platform digital, tetapi pertanyaan tentang siapa yang memiliki platform dan siapa yang bekerja di dalamnya tetap ada.

Bahkan dalam ekonomi digital, hubungan itu kadang terasa lebih aneh. Seorang pengemudi membawa kendaraan sendiri, menggunakan bensin sendiri, menanggung risiko sendiri, tetapi pekerjaannya ditentukan oleh aturan sebuah aplikasi. Seorang kreator membuat konten dengan perangkat sendiri, menghabiskan waktunya sendiri, tetapi jangkauan kontennya bergantung pada sistem yang tidak sepenuhnya ia kuasai. Seorang pekerja lepas mencari proyek sendiri, mengatur waktunya sendiri, tetapi tetap harus mengikuti harga pasar yang tidak ia tentukan sendirian.

"Kita mungkin tidak lagi bekerja di pabrik dengan suara mesin yang bising. Namun bukan berarti kita otomatis menjadi lebih bebas. Kadang mesin itu hanya pindah ke dalam laptop dan ponsel."

Di sinilah konsep alienasi menjadi menarik. Marx menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan keterasingan manusia dalam proses kerja: manusia bisa merasa terpisah dari produk yang ia hasilkan, dari proses kerjanya, dari orang lain, bahkan dari dirinya sendiri. Istilahnya terdengar seperti sesuatu yang hanya cocok dibahas dalam buku filsafat. Padahal pengalaman sederhananya mungkin pernah kita rasakan ketika pulang kerja setelah delapan jam menatap layar dan menyadari bahwa sepanjang hari kita sibuk, tetapi tidak tahu apa sebenarnya yang telah kita lakukan.

Spreadsheet selesai. Email terkirim. Rapat dilakukan. Target dicentang. Besok semuanya dimulai lagi.

Kita tidak selalu membenci pekerjaan. Kadang kita hanya tidak merasa memiliki pekerjaan itu. Kita mengerjakannya karena harus, menghasilkan sesuatu yang kemudian menjadi bagian dari milik orang lain, lalu pulang membawa upah. Ada kepuasan ketika pekerjaan selesai, tetapi ada juga perasaan bahwa sesuatu dari hidup kita terus-menerus tertukar dengan sesuatu yang lain.

Dan tentu saja, setelah mendapatkan upah, kita kembali ke pasar untuk membeli barang yang diproduksi oleh orang lain. Kita bekerja untuk mendapatkan uang, menggunakan uang untuk membeli barang, lalu barang-barang tersebut membuat kita membutuhkan lebih banyak uang. Karena itu kita bekerja lagi. Siklusnya berjalan begitu rapi sampai kita kadang lupa bahwa kita sedang berlari.

Menariknya, kita tidak selalu merasa sedang dieksploitasi. Kapitalisme modern jarang membutuhkan cambuk untuk membuat seseorang bekerja. Ia punya cara yang jauh lebih sopan: tagihan. Tidak ada mandor berdiri di belakang kita ketika kita berangkat kerja. Kita datang karena sewa harus dibayar, makanan harus dibeli, dan rekening tidak bisa diajak kompromi. Paksaan itu tidak selalu terlihat seperti paksaan karena ia hadir sebagai kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun di sinilah kita juga perlu berhati-hati agar pembicaraan tentang Marx tidak berubah menjadi cerita sederhana tentang orang baik melawan orang jahat. Dunia tidak bekerja seperti film. Tidak semua pemilik usaha adalah penjahat, dan tidak semua pekerja otomatis menjadi korban yang tidak punya agensi. Banyak orang membuka usaha karena ingin menciptakan sesuatu, menyediakan pekerjaan, atau sekadar mencari cara untuk bertahan hidup. Banyak pekerja juga menemukan kebanggaan dan makna dalam pekerjaannya. Hubungan ekonomi manusia selalu lebih rumit daripada pembagian dua kubu.

Yang menarik dari Marx bukan karena ia menyediakan daftar orang yang harus kita benci. Yang menarik adalah cara ia mengajari kita membaca struktur di balik kehidupan sehari-hari. Ia mengajak kita bertanya mengapa sesuatu dianggap normal, siapa yang mendapat keuntungan dari kenormalan itu, dan bagaimana hubungan ekonomi membentuk cara manusia hidup.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu menjadi Marxis untuk mengambil pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita tidak harus menghafal seluruh isi Das Kapital untuk bertanya mengapa orang yang bekerja keras masih bisa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Kita tidak perlu mengganti foto profil dengan wajah Marx untuk menyadari bahwa ada hubungan kekuasaan di balik pekerjaan, upah, barang, dan kekayaan.

Marxisme, setidaknya sebagai cara membaca masyarakat, menjadi menarik justru ketika ia membuat sesuatu yang biasa terasa sedikit aneh. Kenapa harga barang seperti itu? Kenapa gaji segini? Kenapa pekerjaan ini dianggap bernilai sementara pekerjaan lain tidak? Siapa yang memiliki perusahaan? Siapa yang mengambil keputusan? Dan kenapa orang yang membuat sesuatu kadang tidak mampu membeli sesuatu yang ia buat sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak langsung membuat kita menjadi revolusioner. Besok pagi kita tetap harus bangun, kuliah, bekerja, membayar tagihan, dan mungkin membeli kopi. Marx juga tidak akan membayar kos kita. Tetapi setelah melihat kehidupan melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, mungkin kita tidak lagi melihat dunia dengan cara yang sama.

Kita akan melihat bahwa di balik barang ada kerja, di balik kerja ada hubungan kekuasaan, dan di balik harga yang terlihat sederhana ada sejarah panjang tentang siapa yang memiliki, siapa yang bekerja, dan siapa yang memperoleh keuntungan.

Jadi, kalau suatu sore Marx benar-benar muncul di depan kedai kopi dan kita bertanya apakah ia mau ikut nongkrong, mungkin ia akan duduk sebentar. Ia mungkin memesan kopi, meskipun kita belum tahu apakah ia sanggup menerima harganya.

Lalu, sambil melihat barista bekerja di balik meja, mungkin ia akan mengajukan pertanyaan yang sama seperti lebih dari satu abad lalu:

"“Dari semua orang yang bekerja untuk membuat kopi ini sampai ke tangan kita, siapa yang paling banyak menikmati hasilnya?” Dan kita mungkin langsung merasa tidak nyaman. Bukan karena kopinya pahit. Tapi karena pertanyaannya."

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
IDAM BHASKARA
Penulis BELOKIRI

IDAM BHASKARA

Semua Tulisan →

Seorang pengangguran, suka ngopi, suka menulis dan suka kamu!

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik MEJA WARKOP

Diskusi Belum Selesai, Kafe Sudah Tutup

Diskusi belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.

IDAM BHASKARA
25 September 2026

Ketika Kritik Harus Menunggu Algoritma

Algoritma tentu bukan manusia yang duduk di belakang meja sambil memilih siapa yang boleh bicara. Ia bekerja melalui pola, data, interaksi, dan berbagai mekanisme yang dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di dalam platform.

Bara Api
24 September 2026