BerandaBERISIKRepublik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan
BERISIKWaktu baca ± 3 menit

Republik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan

Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.

Republik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan

Ada masa ketika pidato pejabat terdengar seperti arah sejarah. Sekarang, pidato pejabat lebih mirip kolom komentar Facebook yang berhasil mendapatkan jabatan struktural. Tahun 2026 tampaknya menjadi musim panen bagi pernyataan-pernyataan pemerintah yang lahir bukan dari kecermatan berpikir, melainkan dari kombinasi fatal antara mikrofon, rasa percaya diri berlebih, dan keyakinan bahwa rakyat mudah lupa.

Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon. Sedikit kemarahan publik langsung diberi kuliah geopolitik. Rakyat mengeluh harga naik, negara menjawab dengan presentasi global. Rakyat mempertanyakan lapangan kerja, pejabat menjelaskan peta konflik internasional seolah tukang gorengan di ujung gang harus memahami dulu ketegangan Laut Cina Selatan sebelum membeli minyak dua liter.

Pernyataan “di desa tidak pakai dolar” mungkin akan masuk museum komunikasi politik paling absurd abad ini. Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang belum pernah belanja sembako tetapi terlalu sering melihat grafik ekonomi di televisi. Seolah-olah dolar hanya hidup di layar Bloomberg dan tidak pernah menjelma menjadi harga pupuk, harga beras, ongkos kapal, atau kopi sachet yang diam-diam naik seribu rupiah tanpa permisi.

Masalahnya memang bukan sekadar salah bicara. Yang lucu adalah keyakinan bahwa realitas bisa dikalahkan dengan kalimat motivasi. Negara seperti sedang mencoba menghipnotis rakyat: “tenang saja, ekonomi baik-baik saja.” Padahal ibu-ibu di pasar sudah lebih dulu menjadi analis ekonomi paling jujur di republik ini. Mereka tidak membaca jurnal IMF, tetapi tahu persis kapan cabai mulai terasa seperti barang impor.

Lalu ada perdebatan sawit yang selalu muncul seperti mantan toxic: hilang sebentar, datang lagi membawa masalah lama. Ketika pejabat berkata kurang lebih bahwa sawit juga pohon karena punya daun, publik langsung sadar bahwa ekologi di negeri ini mungkin memang diajarkan lewat clip-art PowerPoint. Hutan dipahami sebatas benda hijau yang terlihat dari satelit. Tidak ada orangutan, tidak ada tanah adat, tidak ada sungai keruh, hanya hamparan warna hijau yang dianggap selesai selama investor tersenyum.

Di sisi lain, pemerintah tampak semakin alergi pada kritik. Kritik dianggap pesimisme. Demonstrasi dianggap gangguan stabilitas. Mahasiswa dianggap kurang memahami situasi global. Aktivis dianggap terlalu emosional. Netizen dianggap termakan propaganda asing. Semua salah, kecuali konferensi pers kementerian.

Ironisnya, negara yang terlalu sering meminta rakyat “dewasa” justru sering terdengar paling reaktif. Sedikit meme panik. Sedikit tagar sibuk klarifikasi. Sedikit kritik langsung muncul ancaman pemblokiran. Pemerintah hari ini kadang terasa seperti dosen yang marah karena mahasiswa membaca referensi lain di luar modul resmi.

Sementara itu, kabinet bekerja seperti grup WhatsApp keluarga besar: semua orang bicara, tetapi tidak ada yang benar-benar menjawab pertanyaan. Menteri ekonomi bicara optimisme. Menteri lain bicara bonus demografi. Menteri lain lagi bicara hilirisasi. Rakyat cuma bertanya sederhana: “jadi harga kebutuhan turun atau tidak?”

Tahun 2026 akhirnya mengajarkan satu hal penting: di era digital, blunder tidak lagi sekadar kesalahan komunikasi. Ia telah menjadi genre hiburan nasional. Pernyataan pejabat beredar sebagai meme lebih cepat daripada kebijakan itu sendiri. TikTok mengarsipkan semuanya dengan lebih disiplin daripada sekretariat negara. Anak muda mungkin sudah tidak hafal isi UUD, tetapi hafal potongan video pejabat yang ngomong aneh sambil tersenyum percaya diri.

Dan mungkin di situlah tragedi sekaligus komedinya: republik ini terlalu serius mengatur citra, tetapi terlalu ceroboh mengurus kata-kata. Padahal sejarah sering membuktikan, kekuasaan besar tidak runtuh karena pidato oposisi. Kadang ia runtuh perlahan karena terlalu sering terdengar konyol di depan rakyatnya sendiri.

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Total Reaksi: 0

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Agen Belokan
Penulis BELOKIRI

Agen Belokan

Semua Tulisan →

Administrator Utama BELOKIRI. Memegang kendali penuh atas manajemen konten, kurasi naskah, dan tata kelola platform.

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik BERISIK

Instagram Story: Tempat Terakhir Ideologi Bertahan

Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.

IDAM BHASKARA
25 September 2026