BerandaBERISIKBakunin, Sekret, dan Budaya Senioritas yang Tak Kunjung Mati
BERISIKWaktu baca ± 5 menit

Bakunin, Sekret, dan Budaya Senioritas yang Tak Kunjung Mati

Kaderisasi seharusnya menghasilkan manusia yang mampu berpikir sendiri, bukan generasi baru yang semakin mahir menghafal perintah generasi sebelumnya.

Bakunin, Sekret, dan Budaya Senioritas yang Tak Kunjung Mati

Mikhail Bakunin

Foto: Belokiri

Kita berteriak melawan kebijakan negara di jalanan, lalu menunduk ketika jalan di depan tongkrongan senior. Kita mengkritik pejabat yang korup, tetapi diam ketika kakak tingkat berkata, “Sini dulu itu uang kas, besok saya ganti Dinda...”

Kita bicara tentang kebebasan, demokrasi, dan kesetaraan sambil tetap percaya bahwa orang yang masuk organisasi tiga tahun lebih dulu otomatis punya hak lebih besar untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kalau begini caranya, mungkin masalah terbesar organisasi mahasiswa bukan kurangnya keberanian melawan kekuasaan, melainkan terlalu banyak latihan untuk tunduk pada kekuasaan dalam bentuk yang lebih kecil.

Di sinilah Mikhail Bakunin menjadi menarik. Pemikir anarkis Rusia abad ke-19 ini menghabiskan hidupnya dengan mencurigai kekuasaan dan otoritas. Bagi Bakunin, persoalannya bukan hanya siapa yang menjadi penguasa, tetapi mengapa seseorang merasa berhak memerintah orang lain. Jika pertanyaan itu dibawa ke dalam organisasi mahasiswa, jawabannya bisa membuat banyak orang tidak nyaman: karena kita terlalu sering menganggap hierarki sebagai sesuatu yang alamiah.

Senioritas adalah salah satu bentuk hierarki yang paling mudah disembunyikan. Ia tidak membutuhkan surat keputusan atau jabatan resmi. Cukup perbedaan angkatan, pengalaman beberapa tahun lebih lama, atau kalimat, “Saya sudah lebih dulu berproses di sini.” Dari sana, pengalaman perlahan berubah menjadi otoritas, otoritas berubah menjadi hak untuk mengatur atau bahkan menghakimi, dan junior belajar bahwa bertanya terlalu banyak bisa dianggap menghina senior.

Contohnya bisa sangat sederhana dan justru karena itu sering dianggap sepele. Rapat organisasi selesai tengah malam. Ketua dan para senior masih duduk mengobrol di dalam sekretariat, sementara anggota baru disuruh keluar membeli kopi, rokok, atau makanan. Tidak ada yang menyebutnya sebagai perintah. Biasanya cukup dengan kalimat, “Dinda, tolong belikan rokok.” Junior menjalankan. Bukan karena ia setuju, tetapi karena menolak bisa dianggap tidak menghargai senior. Besok malam hal yang sama terjadi lagi. Lama-lama, kebiasaan itu terlihat seperti tradisi.

Contoh lain terjadi ketika rapat sedang membahas program kerja. Seorang anggota baru mengusulkan cara yang berbeda. Seorang senior kemudian berkata, “Sudah pernah dicoba. Tidak akan berhasil.” Diskusi berhenti. Tidak ada data, tidak ada penjelasan, tidak ada kesempatan untuk menguji gagasan tersebut. Cukup pengalaman seseorang untuk menutup pembicaraan. Yang dipakai bukan kekuatan argumen, tetapi kekuatan posisi sosialnya di dalam organisasi.

Lebih menarik lagi ketika keputusan sebenarnya sudah dibuat sebelum rapat dimulai. Beberapa senior telah bertemu terlebih dahulu, menentukan siapa yang akan masuk kepengurusan, program apa yang dijalankan, atau siapa yang dianggap layak menjadi ketua. Rapat kemudian berjalan seperti sebuah pertunjukan demokrasi. Semua orang diberi kesempatan berbicara, tetapi hasil akhirnya sudah memiliki arah. Musyawarah akhirnya hanya menjadi dekorasi agar keputusan lama terlihat sah.

Masalahnya bukan karena senior memiliki pengalaman. Pengalaman tentu berharga. Senior mungkin mengetahui sejarah konflik organisasi, memahami tradisi, atau pernah melewati persoalan yang belum pernah dihadapi anggota baru. Tetapi pengalaman tidak sama dengan kebenaran. Lama berada di organisasi tidak otomatis membuat seseorang lebih benar. Bahkan sepuluh tahun menjadi aktivis tidak memberi seseorang kekebalan dari kritik.

Kalimat “Nanti kalau sudah lama, kamu akan mengerti” juga patut dicurigai. Sebab kalimat itu sering digunakan untuk menghindari pertanyaan yang sebenarnya sederhana. Mengapa aturan ini dibuat? Mengapa keputusan ini harus begitu? Mengapa senior mendapatkan pengkultusan? Kalau jawabannya hanya karena “dari dulu memang begitu”, mungkin persoalannya bukan junior yang belum mengerti, melainkan senior yang tidak mau menjelaskan.

Di titik ini, kritik Bakunin terhadap otoritas menjadi relevan. Otoritas seharusnya tidak diterima hanya karena seseorang berada pada posisi yang dianggap lebih tinggi. Pendapat seharusnya dinilai berdasarkan argumennya, bukan berdasarkan usia, angkatan, atau berapa lama seseorang memakai PDH organisasi. Kalau pendapat senior dianggap benar hanya karena ia senior, maka organisasi sedang mengajarkan kepatuhan, bukan berpikir kritis.

Yang lebih aneh adalah ketika alumni masih menjadi semacam kabinet bayangan. Sudah tidak aktif sebagai anggota, sudah lulus, bahkan sudah bekerja, tetapi masih menentukan siapa yang harus menjadi ketua, siapa yang dianggap layak masuk kepengurusan, atau keputusan apa yang boleh diambil organisasi. Tentu alumni boleh memberi nasihat. Tetapi ketika nasihat berubah menjadi instruksi yang tidak boleh ditolak, organisasi sebenarnya memiliki dua kepemimpinan: yang resmi di struktur dan yang tidak resmi di belakang layar.

Bakunin tentu tidak sedang menulis tentang sekretariat mahasiswa ketika ia mengkritik hierarki. Tetapi gagasannya memberi kita kaca untuk melihat persoalan tersebut. Ketika pengalaman berubah menjadi privilese, jabatan berubah menjadi kuasa, dan tradisi menjadi alasan untuk tidak berubah, organisasi mulai mereproduksi struktur yang sebenarnya mereka klaim ingin lawan.

Karena itu, kritik terhadap senioritas bukan berarti membenci senior. Justru senior yang benar-benar menghargai organisasi seharusnya tidak membutuhkan kepatuhan buta dari junior. Pengalaman seharusnya dibagikan, bukan dijadikan senjata. Pengetahuan seharusnya diwariskan, bukan dimonopoli. Senior seharusnya membantu junior berdiri sendiri, bukan membuat junior terus membutuhkan persetujuannya.

Kaderisasi seharusnya menghasilkan manusia yang mampu berpikir sendiri, bukan generasi baru yang semakin mahir menghafal perintah generasi sebelumnya.

Kalau setiap anggota baru hanya diajarkan untuk menghormati kekuasaan orang lama, organisasi tidak sedang membangun tradisi perlawanan. Ia hanya sedang melakukan regenerasi kekuasaan di ruang lingkup kecil.

Maka pertanyaan paling mengganggu yang bisa kita bawa ke dalam sekretariat mungkin bukan “Siapa ketuanya?” atau “Siapa seniornya?” tetapi: mengapa pendapat seseorang harus lebih benar hanya karena ia datang lebih dulu?

Kalau sebuah organisasi tidak mampu menjawab pertanyaan itu, mungkin yang sedang mereka pertahankan bukan tradisi. Mungkin mereka hanya sedang mempertahankan hierarki.

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Total Reaksi: 1

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Fatur H.
Penulis BELOKIRI

Fatur H.

Semua Tulisan →

"Kalau aku tidak boleh menari, aku tidak mau menjadi bagian dari revolusimu." - Emma Goldmand

DARI WARGA UNTUK WARGA

Menyukai Tulisan Ini? Dukung BELOKIRI Tetap Mengudara

Ruang bicara independen butuh amunisi agar tetap bebas dari sensor kekuasaan dan iklan clickbait. Sisihkan sedikit apresiasi untuk dapur redaksi.

Donasi Solidaritas
Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik BERISIK