Biaya Hidup Naik, Kualitas Argumen Buzzer Turun
Pada 20 Oktober lalu, Greenpeace membentangkan spanduk raksasa di Bundaran HI. Salah satunya bertuliskan, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.”
Temukan kabar, investigasi data, atau esai opini berdasarkan kata kunci, topik, atau nama penulis.
Pada 20 Oktober lalu, Greenpeace membentangkan spanduk raksasa di Bundaran HI. Salah satunya bertuliskan, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.”
Mungkin itulah ironi terbesar gerakan kita: rakyat tidak kekurangan alasan untuk marah, tetapi kemarahan tidak dengan sendirinya melahirkan kekuatan yang mampu mengubah keadaan.
Rocky punya jawaban. Ia mengatakan dirinya cuma “pindah dari luar ke dalam”. Sikapnya tetap radical break. Ia juga membedakan antara “kritik” dan “kritis”.
Sekretariat bukan sekadar tempat menumpuk proposal kegiatan dan spanduk bekas aksi. Ia menjadi tempat membaca keadaan, berdebat, menyusun sikap, lalu keluar menemui masyarakat.
Bagi Engels, Mary bukan sekadar kekasih. Mary adalah "pemandu jalan" yang membuka matanya terhadap realitas pahit dunia kapitalisme.
Selama Orde Baru, satu versi sejarah kemudian memperoleh tempat yang jauh lebih kuat daripada versi lainnya. G30S/PKI diceritakan sebagai pemberontakan komunis terhadap negara, sementara Soeharto tampil sebagai tokoh yang menyelamatkan republik dari ancaman tersebut.
Mahasiswa masih berkumpul, diskusi masih berlangsung. Tetapi sekarang semuanya lebih estetik; Meja kayu industrial, lampu remang redup, playlist jazz lo-fi diselingi lagu “buruh-tani”, dan seseorang di sudut ruangan sedang berkata:
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Masalahnya mungkin bukan mahasiswa tidak punya kepedulian, melainkan kita mulai terbiasa mengukur kepedulian berdasarkan manfaat pribadi.
Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.
Diskusi belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.
Kita sering membicarakan oligarki dengan wajah serius. Dalam diskusi, istilah itu terdengar mengerikan. Oligarki dianggap sebagai penyakit politik, sebagai cara kekuasaan dipertahankan oleh segelintir orang yang memiliki uang, jaringan, dan akses.
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah aksi mahasiswa hari ini: kadang posternya sudah selesai jauh sebelum tuntutannya benar-benar dipahami.