BerandaBERISIKInstagram Story: Tempat Terakhir Ideologi Bertahan
BERISIKWaktu baca ± 7 menit

Instagram Story: Tempat Terakhir Ideologi Bertahan

Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.

Instagram Story: Tempat Terakhir Ideologi Bertahan

Foto: AI Generated

Ada masa ketika orang membawa ideologi di kepala. Sekarang, mungkin cukup di Instagram Story. Pukul sembilan pagi seseorang mengunggah kutipan tentang ketidakadilan, pukul sepuluh membagikan poster solidaritas atau seruan konsolidasi, lalu menjelang siang mengunggah berita politik dengan caption yang penuh kemarahan. Sore harinya, foto kopi muncul di layer dengan backsound lagu Efek Rumah Kaca atau Barasuara, disusul foto Bersama para elite Gerakan di meja warkop pada malam hari. Besok pagi, semua itu sudah hilang. Begitulah kira-kira umur sebuah revolusi digital: dua puluh empat jam.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci. Tidak perlu sekretariat, tidak perlu kursi plastik, bahkan tidak perlu bertemu. Cukup kuota dan keberanian menekan tombol share. Demokrasi menjadi lebih praktis. Perjuangan juga.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan keadaan tersebut. Media sosial justru memberikan ruang yang jauh lebih luas bagi orang untuk berbicara. Informasi yang dulu hanya beredar di ruang kelas, koran, atau forum-forum terbatas sekarang dapat menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit. Orang biasa bisa mengomentari kebijakan pemerintah, membicarakan ketidakadilan, menggalang solidaritas, atau menyebarkan informasi yang mungkin tidak akan pernah mendapat tempat di media arus utama. Dalam pengertian tertentu, media sosial telah membuat politik menjadi lebih terbuka.

Persoalannya muncul ketika kita mulai menganggap bahwa membagikan sesuatu sama dengan melakukan sesuatu. Kita mengunggah kritik terhadap pemerintah lalu merasa sudah mengambil posisi politik. Kita membagikan isu kemanusiaan lalu merasa sudah menunjukkan kepedulian. Kita memasang poster dukungan lalu merasa sudah ikut berjuang. Seolah-olah dunia dapat berubah hanya karena layar ponsel kita hari itu terlihat sedikit lebih progresif daripada kemarin.

Di titik inilah ideologi mengalami perubahan bentuk. Ia tidak selalu lagi hadir sebagai gagasan yang menuntut seseorang mengambil risiko atau terlibat dalam tindakan nyata. Ideologi juga bisa hadir sebagai identitas yang dipajang agar orang lain tahu kita berdiri di sebelah mana. Kita tidak hanya ingin percaya pada sesuatu, tetapi juga ingin terlihat sebagai orang yang percaya pada sesuatu. Perbedaannya memang tipis, tetapi dampaknya cukup besar.

Instagram Story bahkan memiliki sifat yang sangat cocok dengan cara kita memperlakukan politik hari ini: ia memang dirancang untuk menghilang. Kita tahu sejak awal bahwa apa yang kita unggah tidak akan tinggal selamanya. Ia muncul, ditonton, dilewati, kemudian lenyap setelah dua puluh empat jam. Aneh sekaligus menarik jika format semacam ini kemudian menjadi salah satu ruang utama bagi ekspresi politik generasi kita. Kita marah sebentar, peduli sebentar, sedih sebentar, kemudian berpindah ke unggahan berikutnya. Berita tentang korupsi bisa muncul berdampingan dengan promo makanan. Video kekerasan bisa disusul video kucing. Krisis kemanusiaan dan diskon sepatu dapat bertemu dalam satu layar yang sama.

Barangkali persoalannya bukan bahwa kita tidak peduli. Bisa jadi kita justru terlalu banyak diberi alasan untuk peduli setiap hari. Kita melihat penderitaan dari berbagai penjuru dunia hanya dengan membuka ponsel. Kita tahu perang yang terjadi ribuan kilometer dari rumah, mengetahui kebijakan pemerintah beberapa menit setelah diumumkan, dan bisa melihat bagaimana orang lain bereaksi terhadap semuanya. Tetapi karena semua hadir dalam arus informasi yang sama, sesuatu yang sangat serius pun perlahan kehilangan kesempatan untuk tinggal lebih lama di kepala kita. Semuanya terlihat penting, sehingga tidak ada yang benar-benar terasa penting.

"Namun, menyalahkan Instagram juga terlalu mudah. Teknologi hanya memperbesar sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada dalam diri manusia: keinginan untuk diakui. Dulu seseorang mungkin datang ke rapat organisasi supaya pendapatnya didengar."

Sekarang ia bisa datang ke Instagram supaya keberadaannya dilihat. Dulu orang membawa spanduk dalam demonstrasi. Sekarang kamera hampir selalu ikut dibawa. Dulu keberhasilan sebuah aksi mungkin diukur dari jumlah orang yang datang, tuntutan yang dibawa, atau perubahan yang berhasil didorong. Sekarang ukuran lain ikut masuk: berapa banyak yang melihat Story, berapa banyak yang membagikan, dan berapa banyak yang menyukai.

Tentu saja bukan berarti setiap orang yang mengunggah perjuangan sedang berpura-pura. Satu unggahan memang bisa menyebarkan informasi. Sebuah Story mungkin membuat seseorang mengetahui persoalan yang sebelumnya tidak ia pahami. Sebuah video dapat menggerakkan orang untuk berdonasi, ikut aksi, atau sekadar mulai bertanya. Masalahnya bukan pada Story itu sendiri. Masalahnya muncul ketika Story berubah dari alat menjadi tujuan; ketika kita lebih sibuk memastikan perjuangan terlihat daripada memastikan perjuangan menghasilkan sesuatu.

Di sini kita menemukan ironi lain yang cukup lucu. Kita sering membicarakan kapitalisme dari tempat yang sangat nyaman. Kita mengeluhkan ketimpangan sambil memesan kopi, membicarakan budaya konsumtif sambil menunggu paket belanjaan datang, atau mengkritik perusahaan teknologi melalui aplikasi milik perusahaan teknologi. Bahkan orang yang paling rajin mengutip pemikir kiri bisa saja sibuk mengecek berapa orang yang melihat unggahannya. Tetapi mungkin ini bukan sekadar kemunafikan. Kita memang tidak pernah benar-benar hidup di luar sistem yang kita kritik. Kita berada di dalamnya, menggunakan produknya, menikmati kenyamanannya, sekaligus mengeluh tentangnya.

Karena itu, persoalannya bukan bagaimana menjadi manusia yang sepenuhnya bebas dari kontradiksi. Barangkali itu mustahil. Persoalannya adalah apakah kita sadar bahwa kontradiksi tersebut ada. Kritik yang jujur bukan kritik dari seseorang yang merasa dirinya sudah berada di luar masalah, melainkan kritik dari seseorang yang mengerti bahwa dirinya juga merupakan bagian dari masalah yang sedang dibicarakan.

Hal yang sama berlaku ketika politik mulai diperlakukan seperti gaya berpakaian. Kita tidak hanya memilih pendapat berdasarkan apa yang kita yakini, tetapi kadang berdasarkan bagaimana kita ingin dilihat. Progresif, kritis, radikal, humanis, konservatif, nasionalis—semuanya dapat menjadi identitas, dan media sosial sangat pandai mengubah identitas menjadi tampilan. Akibatnya, pertanyaan yang semestinya sederhana, “Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?”, perlahan bergeser menjadi, “Bagaimana orang lain melihat apa yang kamu pikirkan?”

Di sinilah algoritma ikut memainkan perannya. Ia tidak secara langsung melarang kita berbicara. Kita tetap bebas menulis, merekam, mengunggah, dan berkomentar. Tetapi kebebasan berbicara ternyata tidak otomatis berarti kebebasan untuk didengar. Ada perbedaan antara mampu mengatakan sesuatu dan memiliki kesempatan agar sesuatu itu terlihat. Di tengah ekonomi perhatian, suara yang paling benar belum tentu suara yang paling banyak muncul. Yang lebih sering muncul adalah suara yang mampu mempertahankan perhatian.

Maka tidak mengherankan jika politik perlahan belajar berbicara dengan bahasa algoritma. Persoalan yang rumit harus diringkas menjadi satu kalimat. Kemarahan harus memiliki gambar yang menarik. Solidaritas harus dikemas dalam ukuran layar yang tepat. Bahkan penderitaan manusia kadang harus menunggu desain yang bagus sebelum cukup layak dibagikan. Kita bukan hanya memikirkan apa yang ingin kita katakan, tetapi juga bagaimana membuatnya terlihat.

Tetapi pada akhirnya, semua itu kembali pada pertanyaan sederhana: setelah Story tersebut hilang, apa yang tersisa? Apakah kita masih membaca? Masih berdiskusi? Masih datang ke ruang tempat keputusan dibuat? Masih mau mendengar orang yang berbeda? Masih bersedia mengambil risiko ketika tidak ada kamera yang mengarah kepada kita? Ataukah perjuangan kita berhenti ketika baterai ponsel tinggal lima persen?

Mungkin generasi kita tidak kekurangan kepedulian. Kita justru memiliki terlalu banyak cara untuk menunjukkannya. Setiap hari kita dibombardir dengan berbagai alasan untuk marah, sedih, dan peduli. Kita mengetahui lebih banyak daripada generasi sebelumnya, tetapi mengetahui tidak selalu berarti memahami. Membagikan sesuatu juga tidak otomatis berarti memperjuangkannya. Ada jarak yang cukup panjang antara “gue tahu” dan “gue melakukan sesuatu”, dan jarak itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan menekan tombol share.

Instagram Story akan tetap menjadi Instagram Story. Ia muncul, dilihat, dilewati, lalu hilang. Mungkin sebagian ideologi kita hari ini juga mengalami nasib yang sama: muncul ketika isu sedang ramai, bertahan selama perhatian belum berpindah, lalu menghilang ketika layar mulai dipenuhi hal lain. Namun ideologi yang benar-benar hidup barangkali bukan yang paling sering muncul di layar. Ia adalah sesuatu yang tetap bekerja ketika tidak ada kamera, tidak ada like, dan tidak ada orang yang tahu bahwa kita sedang melakukannya.

Sebab pada akhirnya, perjuangan paling penting mungkin justru perjuangan yang tidak memiliki tombol share. Dan ketika suatu hari semua aplikasi mati, internet putus, dan tidak ada lagi tempat untuk membuat Story, kita akhirnya akan tahu apakah yang selama ini kita miliki benar-benar ideologi atau hanya arsip sementara yang pernah lewat di layar orang lain.

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
IDAM BHASKARA
Penulis BELOKIRI

IDAM BHASKARA

Semua Tulisan →

Seorang pengangguran, suka ngopi, suka menulis dan suka kamu!

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik BERISIK