Kita Benci Oligarki, Tapi Senang Kalau Dikasih Jabatan
Kita sering membicarakan oligarki dengan wajah serius. Dalam diskusi, istilah itu terdengar mengerikan. Oligarki dianggap sebagai penyakit politik, sebagai cara kekuasaan dipertahankan oleh segelintir orang yang memiliki uang, jaringan, dan akses.

Foto: BELOKIRI
Kita sering membicarakan oligarki dengan wajah serius. Dalam diskusi, istilah itu terdengar mengerikan. Oligarki dianggap sebagai penyakit politik, sebagai cara kekuasaan dipertahankan oleh segelintir orang yang memiliki uang, jaringan, dan akses. Kita mengkritiknya di kampus, di ruang diskusi, di media sosial, bahkan di warkop. Tetapi suasana biasanya berubah ketika seseorang dari kelompok kita mendapat jabatan.
Tiba-tiba kekuasaan punya nama yang lebih ramah. Ia bukan lagi dominasi, melainkan kesempatan. Bukan lagi patronase, melainkan jaringan. Bukan lagi kedekatan dengan elite, melainkan akses untuk memperjuangkan kepentingan. Istilahnya berubah, tetapi rasa senangnya tetap sama. Kita mungkin tidak suka kekuasaan ketika berada di luar, tetapi cukup mudah menyukainya ketika pintunya mulai terbuka.
Barangkali di sinilah kritik terhadap oligarki menjadi lebih rumit daripada sekadar menunjuk pejabat, pengusaha, atau keluarga politik. Kekuasaan tidak hanya hidup di gedung pemerintahan. Ia juga hidup di organisasi, kampus, komunitas, dan ruang-ruang kecil tempat orang menentukan siapa yang mendapat kesempatan dan siapa yang harus menunggu. Ada ketua yang dikelilingi orang-orang dekatnya, ada jabatan yang berputar di lingkaran yang sama, ada keputusan yang lebih mudah selesai karena seseorang mengenal seseorang.
Tentu tidak semua hubungan adalah nepotisme dan tidak semua jabatan adalah korupsi. Organisasi memang membutuhkan kepercayaan, jaringan memang diperlukan, dan orang yang pernah bekerja bersama tentu lebih mudah dipercaya. Tetapi persoalannya mulai muncul ketika akses menjadi lebih penting daripada kemampuan, ketika loyalitas kelompok mengalahkan kepentingan bersama, dan ketika kita mulai menganggap hal itu wajar hanya karena yang melakukannya adalah orang kita sendiri.
Kita sering punya standar moral yang berbeda untuk kawan dan lawan. Ketika lawan mendekati pejabat, kita menyebutnya oportunis. Ketika kawan melakukan hal yang sama, kita menyebutnya strategi. Ketika lawan mendapat jabatan, kita curiga ada transaksi. Ketika kawan mendapat jabatan, kita mengatakan bahwa akhirnya orang baik masuk ke dalam sistem. Mungkin masalahnya bukan kita tidak punya prinsip. Kita hanya sering menyesuaikan prinsip dengan siapa yang sedang kita bela.
Di titik ini, kritik terhadap oligarki seharusnya tidak berhenti pada siapa yang berkuasa. Ia juga perlu bertanya tentang cara kita memperlakukan kekuasaan ketika kekuasaan itu kebetulan berpihak kepada kita. Apakah kita tetap kritis ketika teman sendiri mendapat posisi strategis? Apakah kita masih berbicara tentang transparansi ketika nama kita masuk dalam daftar penerima manfaat? Apakah kita masih menolak politik balas jasa ketika jasa itu diberikan kepada kelompok kita?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak nyaman karena jawabannya mungkin tidak terlalu heroik. Bisa jadi kita memang membenci ketidakadilan. Tetapi kita juga menyukai akses. Bisa jadi kita sungguh-sungguh ingin sistem berubah. Tetapi kita tidak keberatan jika perubahan itu dimulai dengan memberikan kita satu kursi. Manusia memang punya kemampuan luar biasa untuk menjelaskan mengapa kepentingannya sendiri kebetulan sejalan dengan kepentingan umum.
Karena itu, melawan oligarki tidak cukup hanya dengan mengganti orang yang duduk di kursi kekuasaan. Kalau cara kita membangun hubungan dengan kekuasaan tetap sama, yang berubah mungkin hanya nama orangnya. Sistemnya tetap bekerja dengan logika yang sama: yang dekat mendapat akses, yang loyal mendapat kesempatan, dan yang kritis disuruh menunggu.
Mungkin kita tidak selalu benar-benar membenci oligarki. Mungkin kita hanya belum mendapatkan bagiannya. Dan ketika suatu hari jabatan itu datang, barangkali ujian sebenarnya bukan bagaimana kita mendapatkannya, tetapi apakah setelah mendapatkannya kita masih ingat alasan mengapa dulu kita begitu keras mengkritik kekuasaan.
Reaksi Warga Pembaca
Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:
Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?
Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.
Agen Belokan
Administrator Utama BELOKIRI. Memegang kendali penuh atas manajemen konten, kurasi naskah, dan tata kelola platform.
Tulisan Terkait & Terkini
Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.
Ketika Poster Aksi Lebih Bagus daripada Aksinya
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah aksi mahasiswa hari ini: kadang posternya sudah selesai jauh sebelum tuntutannya benar-benar dipahami.
Kota yang Terlalu Sibuk untuk "hanya sekedar" Melihat Pedagang Kaki Lima
Ada satu jenis manusia yang paling mudah ditemukan di kota, tetapi paling jarang dianggap sebagai bagian dari wajah kota itu sendiri: pedagang kaki lima.
Kamar Kos: Negara Kecil dengan Presiden yang Kehabisan Uang
Kamar kos adalah negara kecil dengan wilayah yang terbatas. Kamar adalah ibu kota, kasur menjadi pusat pemerintahan, meja belajar kadang berfungsi sebagai kementerian pendidikan, dan kulkas kecil menjadi bank sentral yang sering kali cadangannya kosong.


