BerandaSEDIKIT AKADEMISMasuk Istana, Rocky Gerung: Tetap Radical Break!
SEDIKIT AKADEMISWaktu baca ± 4 menit

Masuk Istana, Rocky Gerung: Tetap Radical Break!

Rocky punya jawaban. Ia mengatakan dirinya cuma “pindah dari luar ke dalam”. Sikapnya tetap radical break. Ia juga membedakan antara “kritik” dan “kritis”.

Masuk Istana, Rocky Gerung: Tetap Radical Break!

Rocky Gerung pernah mengatakan sesuatu yang kemudian rajin dipelihara internet. Di Padepokan Pencak Silat TMII, ia bilang akan mengkritik Prabowo “12 menit setelah dilantik” kalau Prabowo terpilih sebagai presiden. “Catat jejak digital hari ini,” katanya. Tujuh tahun kemudian, internet memang tidak lupa. Jumat, 2 Oktober 2026, Rocky justru berdiri di Istana Negara untuk dilantik Prabowo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Kalau politik punya selera humor, mungkin ini salah satu lelucon yang lumayan mahal.

Tapi urusannya sebenarnya bukan soal Rocky ingkar janji atau tidak. Orang boleh berubah posisi. Bahkan seorang pengkritik pemerintah pun sah-sah saja masuk pemerintahan. Yang bikin peristiwa ini menarik adalah pertanyaan yang lebih tua dari Rocky sendiri: apa yang terjadi pada seorang pengkritik ketika kekuasaan yang selama ini ia kritik tiba-tiba memberinya kursi?

Rocky punya jawaban. Ia mengatakan dirinya cuma “pindah dari luar ke dalam”. Sikapnya tetap radical break. Ia juga membedakan antara “kritik” dan “kritis”. Sebagai anggota Wantimpres, menurutnya, ia berada di posisi untuk bersikap kritis terhadap kebijakan dan memberikan pertimbangan kepada Presiden. Bahkan dalam penjelasannya, ia menyebut Presiden sebagai “user”-nya.

Kalimat “pindah dari luar ke dalam” justru menarik untuk dipikirkan. Selama bertahun-tahun Rocky punya kemewahan sebagai pengkritik dari luar. Ia bisa menunjuk pemerintah tanpa harus ikut mengurus meja pemerintah yang berantakan. Bisa membongkar kebijakan tanpa harus ikut menghitung anggaran. Bisa mengatakan sebuah keputusan keliru tanpa harus duduk di ruangan tempat keputusan itu dibahas. Dari luar, kritik memang lebih bebas. Bahkan kadang terlalu bebas.

Begitu masuk, semuanya berubah sedikit. Ada jabatan, ada aturan, ada hierarki, ada kepentingan, dan tentu saja ada kenyamanan. Kekuasaan tidak selalu perlu menyuruh seseorang berhenti mengkritik. Kadang ia cukup memberi seseorang kursi. Setelah duduk, kita bisa saja masih menjadi orang yang sama. Tapi kita mulai melihat ruangan dari sudut yang berbeda.

Philip Selznick pernah membicarakan hal semacam ini melalui konsep kooptasi: kekuasaan menyerap orang-orang yang berpotensi menjadi ancaman ke dalam strukturnya. Bunyinya memang seperti istilah kuliah politik, tapi praktiknya sederhana. Orang yang tadinya berdiri di luar pagar akhirnya diajak masuk. Belum tentu ia dibeli. Belum tentu pula ia berubah. Bisa saja ia memang masuk karena ingin memengaruhi keputusan dari dalam. Justru karena itu, kita tidak bisa langsung menyebut Rocky sudah ditelan kekuasaan.

Belum ada cukup waktu untuk sampai pada kesimpulan itu. Yang sekarang justru menarik adalah bagaimana ia akan menjalankan posisi barunya. Edward Said pernah melihat intelektual sebagai seseorang yang perlu menjaga jarak dari kekuasaan. Bukan berarti seorang intelektual harus selamanya menjadi oposisi. Pemerintahan juga membutuhkan orang yang berpikir, termasuk orang yang berani mengatakan bahwa sebuah keputusan mungkin salah. Tetapi jarak itu penting. Sebab orang yang terlalu dekat dengan kekuasaan bisa perlahan lupa bagaimana rasanya melihat kekuasaan dari luar.

Rocky sekarang punya kesempatan membuktikan bahwa jarak itu masih bisa dipelihara meskipun kursinya berada di dalam Istana. Ujiannya bukan ketika ia mengucapkan radical break di depan kamera. Itu bagian yang mudah. Ujian sebenarnya muncul ketika suatu hari ada kebijakan Prabowo yang menurutnya keliru, lalu pendapatnya tidak disukai orang-orang di dalam ruangan. Apakah ia tetap menyampaikannya? Apakah kritik itu hanya berhenti di meja Presiden? Atau publik juga akan mendengar suara Rocky yang dulu begitu rajin mengingatkan pemerintah?

Di titik itu, persoalannya tidak lagi sekadar Rocky Gerung. Ini tentang posisi seorang intelektual ketika ia berhadapan langsung dengan kekuasaan. Kita sering mengira kritik menjadi kuat karena seseorang berada di luar. Padahal mungkin yang lebih sulit adalah tetap kritis setelah seseorang berada di dalam. Sebab dari luar kita hanya kehilangan akses. Dari dalam, kita bisa kehilangan jarak.

Jadi, mungkin kita tidak perlu buru-buru menagih janji 12 menit dari 2019. Biarkan waktu yang mengurusnya. Rocky bilang ia cuma pindah dari luar ke dalam. Baiklah. Sekarang kita lihat apakah orang yang masuk ke Istana itu masih bisa melihat Istana sebagai sesuatu yang layak dikritik.

Sebab radical break bukan soal seberapa keras seseorang berteriak dari luar pagar. Kadang ia justru diuji ketika seseorang sudah berada di dalam, duduk dengan nyaman, lalu harus mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh orang yang memberinya kursi.

Sumber & Liputan: 1. https://nasional.kompas.com/read/2026/10/03/08400001/rocky-gerung-masuk-istana--radical-break-atau-radical-embrace-?page=all 2. https://www.liputan6.com/news/read/8304847/rocky-gerung-jadi-wantimpres-sikap-saya-tetap-radical-break?utm_source=chatgpt.com

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Total Reaksi: 2

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Bara Api
Penulis BELOKIRI

Bara Api

Semua Tulisan →

Menulis dengan kepala dingin dan nada yang kadang panas. Tertarik pada isu kekuasaan, kebijakan publik, gerakan mahasiswa, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang sering dibungkus bahasa resmi. Percaya bahwa kritik tidak harus berisik untuk bisa mengganggu.

DARI WARGA UNTUK WARGA

Menyukai Tulisan Ini? Dukung BELOKIRI Tetap Mengudara

Ruang bicara independen butuh amunisi agar tetap bebas dari sensor kekuasaan dan iklan clickbait. Sisihkan sedikit apresiasi untuk dapur redaksi.

Donasi Solidaritas
Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik SEDIKIT AKADEMIS