Republik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Temukan kabar, investigasi data, atau esai opini berdasarkan kata kunci, topik, atau nama penulis.
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Masalahnya mungkin bukan mahasiswa tidak punya kepedulian, melainkan kita mulai terbiasa mengukur kepedulian berdasarkan manfaat pribadi.
Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.
Ada satu jenis manusia yang paling mudah ditemukan di kota, tetapi paling jarang dianggap sebagai bagian dari wajah kota itu sendiri: pedagang kaki lima.
Kamar kos adalah negara kecil dengan wilayah yang terbatas. Kamar adalah ibu kota, kasur menjadi pusat pemerintahan, meja belajar kadang berfungsi sebagai kementerian pendidikan, dan kulkas kecil menjadi bank sentral yang sering kali cadangannya kosong.
Algoritma tentu bukan manusia yang duduk di belakang meja sambil memilih siapa yang boleh bicara. Ia bekerja melalui pola, data, interaksi, dan berbagai mekanisme yang dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di dalam platform.
Kita sering membicarakan oligarki dengan wajah serius. Dalam diskusi, istilah itu terdengar mengerikan. Oligarki dianggap sebagai penyakit politik, sebagai cara kekuasaan dipertahankan oleh segelintir orang yang memiliki uang, jaringan, dan akses.