Marx Mungkin Kesal Melihat Kita Nongkrong
Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk menjelaskan kapitalisme kepada mahasiswa Indonesia hari ini adalah dengan mengajaknya nongkrong di kedai kopi.
Temukan kabar, investigasi data, atau esai opini berdasarkan kata kunci, topik, atau nama penulis.
Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk menjelaskan kapitalisme kepada mahasiswa Indonesia hari ini adalah dengan mengajaknya nongkrong di kedai kopi.
Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.
Diskusi belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.
Malam Minggu merupakan fenomena yang akrab dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya bagi kalangan muda mudi.
Nongkrong sendiri telah menjelma sebagai common culture yang seiring berjalannya waktu terus terperbaharui, entah dalam hal tempat atau isian agenda nongkrongnya. Budaya nongkrong juga dianggap sebagai sesuatu yang bahkan bisa menyembuhkan jiwa.
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah aksi mahasiswa hari ini: kadang posternya sudah selesai jauh sebelum tuntutannya benar-benar dipahami.